Oleh : Modernisator
Dikirim : 29/04/2009
Berbekal ilmu antropologi dari Universitas Padjajaran, pelopor Sokola Rimba, Butet Manurung sedang melanjutkan studinya di Australia National University, Canberra, Australia. Tetap dalam lingkup pendidikannya, wanita yang pernah ingin menjadi dokter di Papua ini sedang berusaha meraih gelar Master of Applied Antropology & Participatory Development yang diharapkan akan tercapai dalam waktu 2 tahun. “Bulan Desember 2010 rencananya aku akan selesai dari Australia,” jelasnya saat bertemu dengan tim Modernisator awal April 2009. “Setelah itu langsung kembali ke rimba,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, dengan ditemani oleh sang ibu, Butet juga memperkenalkan seorang remaja rimba bernama Mijak yang ternyata sedang mengejar mimpinya untuk menjadi seorang pembuat film. “Ia telah berhasil membuat sebuah film yang diberi judul Rimba Rumah Kami,” jelas Butet.
Bertemakan tentang kehidupan di rimba, Mijak ternyata memiliki niatan yang mulia, karena tujuan dari membuat film tersebut adalah untuk kebaikan dari para penghuni rimba. “Program-program Sokola Rimba juga kami fokuskan terhadap para remaja, karena mereka adalah agen perubahan,” ujar Butet yang sudah lebih dari belasan tahun ‘bermain’ di hutan.
Melihat prestasi Mijak, sosok Butet tidak luput dari ribuan pujian dan penghargaan yang ditujukan pada dedikasinya. “Saya sangat berterimakasih atas apresiasi yang mereka berikan, namun pada dasarnya ini adalah hobi saya,” jelas Butet. “Sejak kecil memang saya sudah mengidam-idamkan untuk hidup di hutan, jadi mau dibilang apapun inilah hidup saya,” ucapnya.
Butet juga sempat bercerita tentang pengalaman-pengalamannya di dalam hutan dengan berbagai jenis hewan seperti ular dan beruang. “Mirip dengan film favorit saya, Indiana Jones,” tutur Butet sambil tertawa. Ia juga mengatakan bahwa hidup di hutan membuat ia selalu sadar akan sebuah hal, “Di hutan apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan, bukan ulah dari manusia.”
Butet kemudian berbicara tentang persepsi awam yang salah terhadap orang rimba. “Mereka sering kali dituduh sebagai perusak hutan karena hidup berpindah-pindah. Banyak orang tidak tahu bahwa cara hidup mereka menjadikan mereka sebagai pelestari alam dan sumber dayanya, itu semua karena hidup mereka sangat tergantung dari alam,” jelas Butet mengenai cara hidup orang rimba.
Selain itu, muncul kesulitan yang harus Sokola Rimba hadapi, yaitu membuat mereka merasa bangga dengan adat mereka. “Karena mereka tidak memiliki agama, mereka sering kali di cap sebagai kaum yang bodoh dan dungu, namun sifat primitif tidak selalu buruk. Kalau sudah tidak nyaman dengan keadaan tersebut, mereka akan secara alami mengadakan perubahan, tidak perlu dipaksa,” tegasnya.
Dihadapkan kenyataan tersebut, Butet justru melihat sebuah kesempatan yang dapat menjadi motivasi untuk Sokola Rimba. “Saya yakin mereka semua akan berubah dan dapat hidup seperti masyarakat biasa, tetapi yang penting adalah menyiapkan mereka untuk menghadapi perubahan tersebut,” ucapnya sembari bercerita sedikit tentang gaya hidup orang rimba yang sudah mulai terkena imbas konsumtifitas masyarakat pada umumnya normal.
Sebagian besar orang rimba belum memiliki keinginan untuk berubah, namun bukan berarti tidak ada usaha sembari menanti datangnya perubahan. Kembali melihat Mijak, ia adalah salah satu orang rimba yang ingin menimba ilmu di luar untuk mempertahankan adat rimba yang ia kenal dari kecil.
Butet juga menyarankan agar pemerintah dan orang awam untuk lebih mengenal orang-orang rimba ini, karena dibalik ketidaktahuan pada kericuhan politik dan ekonomi yang terjadi belakangan ini, mereka justru adalah para pelestari sejati bumi dan segenap sumber daya alamnya.
Back
(28/09/2009 12:00:00)
wah saya suka sama kerja keras mbak butet karena beliau sangat konsisten dengan semangat ilmu antropologinya,,you are a truly anthropologist :)