Oleh : Muhammad Chatib Basri
Dikirim : 08/09/2008
Sejarah kerap berulang. Konon riwayat peradaban manusia dimulai dengan pengembaraan dari tanah yang satu ke tanah yang lain, tanpa batas administrasi. Mereka inilah yang dinamakan nomaden.
Sejarah kemudian bergeser dan di dasawarsa ini, pola yang sama kembali terulang, tapi dalam genre yang lebih canggih: pergerakan modal dan barang tanpa batas. Dalam bahasa keseharian, kita kenal dengan globalisasi. Globalisasi, seperti halnya uang logam, punya dua sisi. Di satu sisi ia punya harapan, di sisi lain ia punya kecemasan.
Sayang cara pandang kita kerap didominasi oleh kecemasan. Mungkin itu cermin rasa percaya diri yang tak sepenuhnya utuh, karena persiapan kita yang centang perenang. Kita seperti begitu khawatir dan takut dengan persentuhan dengan pihak luar. Kita seperti begitu sensitif terhadap soal-soal yang punya konotasi "asing" atau "Barat". Dan, ada satu kegemaran kita pada garis pikir adanya "konspirasi internasional".
Karena itu, kita kerap dengar orang bicara dengan nada "awas asing" atau "awas Barat" atau "awas campur tangan luar". Tentu ini tak selamanya salah. Skeptisisme memang satu hal. Tapi, paranoia adalah hal lain. Bangsa yang tak pernah membuka diri keluar cenderung melihat bahwa segala sesuatu di luar dirinya adalah salah.
Sebaliknya, bangsa yang baru membuka dirinya keluar dan melihat peradaban baru, cenderung melihat segala sesuatu di luar dirinya adalah benar. Sedangkan bangsa yang dewasa akan dapat melihat dalam timbangan yang lebih tenang, bahwa dirinya dan orang lain di luar dirinya bisa benar, dan bisa juga salah.
Itu sebabnya, kita cukup percaya diri untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Itu sebabnya pula, kita juga harus melihat globalisasi ini dalam dua sisi peluang yang bisa kita manfaatkan dan ancaman yang perlu kita antisipasi.
Memanfaatkan
Satu hal yang kerap dilupakan dalam diskusi mengenai globalisasi di Indonesia adalah perubahan global dan kemungkinan pemanfaatannya bagi kita. Saya kira, satu perubahan penting dalam perekonomian dunia di masa depan adalah perubahan struktur demografi. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara di Eropa, dan di kawasan Asia termasuk Jepang dan Singapura.
Data menunjukkan persentase penduduk usia 65 tahun ke atas pada 2025 akan semakin meningkat di Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan juga Thailand. Sedangkan untuk Indonesia, walau persentasenya meningkat, relatif di bawah negara-negara di atas.
Apa implikasi dari meningkatnya penduduk lanjut usia ini? Pertama, produktivitas akan menurun akibat menurunnya penduduk usia produktif. Penurunan penduduk usia produktif akan mengakibatkan menurunnya pendapatan nasional.
Pertumbuhan ekonomi di Jepang, misalnya, diperkirakan menurun tajam pada 2020. Hal yang sama praktis terjadi di semua negara yang mengalami persoalan penduduk lanjut usia (lansia).
Kedua, peningkatan penduduk lansia juga membawa dampak kepada pembiayaan anggaran. Peningkatan penduduk lansia akan menimbulkan beban di dalam jumlah tunjangan sosial yang harus ditanggung oleh negara. Sementara di sisi penerimaan, penurunan output akibat penurunan persentase penduduk usia produktif akan mengakibatkan penurunan penerimaan. Akibatnya, dapat diduga defisit anggaran pemerintah akan semakin membengkak.
Ketiga, peningkatan lansia akan mengakibatkan meningkatnya tingkat rasio ketergantungan.
Bagaimana posisi Indonesia, dan apa yang kita bisa manfaatkan dari transisi demografi ini? Menarik untuk melihat bahwa Indonesia ternyata memiliki potensi untuk unggul di masa depan. Mengingat persentase penduduk lansia di Indonesia akan relatif kecil dibanding penduduk di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan negara Asia lainnya, bukan tidak mungkin produktivitas di Indonesia akan relatif lebih tinggi dibanding negara-negara tersebut.
Selain itu, keterbatasan tenaga kerja produktif di negara-negara tersebut akan membuat permintaan tenaga kerja produktif meningkat. Bila mereka tak mampu menyediakan tenaga kerja produktif -karena hambatan dalam struktur demografi-- negara-negara tersebut harus membuka diri terhadap kemungkinan masuknya tenaga kerja asing.
Dalam hal ini sumber tenaga kerja asing akan bergantung kepada negara yang memiliki kelebihan tenaga kerja produktif -yang salah satunya adalah Indonesia.
Mampukah ?
Pertanyaan lanjutnya ialah apakah Indonesia mampu memanfaatkan peluang ini? Jawabannya akan sangat bergantung kepada upaya perbaikan kualitas tenaga kerja. Di sinilah kita melihat bahwa perubahan struktur demografi dunia akan berpengaruh kepada permintaan tenaga kerja di Indonesia dan juga kebutuhan untuk perbaikan kualitas tenaga kerja di masa depan.
Oleh karena itu, saya kira fokus kepada pendidikan menjadi amat penting. Kita butuh begitu banyak orang terdidik, mulai tingkat S-1, S-2 dan S-3. Saya punya optimisme bahwa bonus demografi yang terjadi akibat perubahan struktur demografi merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia di masa depan. Di sisi lain, tentu upaya peningkatan daya saing menjadi faktor penting.
Yang mungkin lebih penting lagi dipikirkan adalah bagaimana proses penyesuaian dalam jangka pendek harus dilakukan dan kompensasi apa yang harus diberikan kepada mereka yang terpinggirkan dalam persaingan akibat globalisasi.
Dengan ini, globalisasi tak harus dihadapi dengan kecemasan. Jika orang selalu berpikir mengenai dampak penetrasi dan dominasi perusahaan asing di Indonesia, mengapa kita tak berpikir dalam kerangka yang sama: di masa depan perusahaan-perusahaan Indonesia juga harus memiliki kemampuan penetrasi dan berkembang di banyak negara, menjadi multinasional di banyak negara. Mengapa kita selalu berpikir dalam konteks korban dan bukan sebagai pemenang ?
Muhammad Chatib Basri , direktur LPEM-FEUI
Back