
Marco lahir di Pangkalpinang, Pulau Bangka, pada tanggal 14 Juli 1961. Dia bekerja di bidang arsitektur, lingkungan, seni, kekayaan budaya, pembangunan dan perencanaan kota dengan pengalaman kerja lebih dari 20 tahun. Ia pernah bekerja dengan pihak swasta, pemerintah, LSM lokal dan internasional, dan lembaga kerjasama internasional seperti The World Bank, UNDP dan UN-HABITAT.
Ia menulis untuk beberapa media cetak di Jakarta, dan juga untuk beberapa jurnal dan buku yang berkaitan dengan kajian perkotaan. Ia telah menerbitkan empat buku: Jakarta Metropolis Tunggang-langgang (Gagas Media, 2004); Siak Sri Indrapura (Yayasan Lontar, 2006, dan 2007 dalam Bahasa Inggeris); Kota, Rumah Kita (Borneo, 2006); dan Mengubah Dunia, Kewiraupayaan Sosial dan Kekuatan Gagasan Baru (Ashoka, Yayasan Nurani Dunia dan Insist Press, 2006, terjemahan dari David Bornstein, How to Change the World, Social Entrepreneurs and the Power of New Ideas, Oxford University Press, 2004).
Pada tahun 2006, Marco bersama dengan UPLINK (Urban Poor Linkage) merencanakan dan membangun kembali 23 desa, terdiri dari antara lain 3,331 rumah, di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menurut hasil survei UN-HABITAT, proyek tersebut tergolong yang terbaik dalam kualitas konstruksi dan kepuasaan pemilik rumah. Proyek ini, Integrated People-driven Reconstruction of Post Tsunami Aceh, pada 15 November 2008 memenangkan Dubai International Award for Best Practices to Improve Living Environment.
Dan pada April-Juni 2008, Marco adalah research fellow dalam rangka Urban Future Initiatives Program di MAK Center for Art and Architecture, Los Angeles, dengan topic “Urbanism dan Sustainability”. Pada bulan Oktober 2008 ia adalah fellow dari Ove Arup Foundation untuk mengajar pada program pasca-sarjana yang diselenggarakan The African Center for Cities dan Faculty of Built Environment di University of Cape Town, Afrika Selatan. Marco telah terlibat dalam diskusi kajian perkotaan di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarya, Surakarta, Palu, Palembang, Bogor, Medan, Banda Aceh, Padang, Bukittinggi, Bandar Lampung, Blitar, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kendari, dan lain-lain, serta di luar ngeri di Mannheim, Berlin, Vancouver, Phnom Penh, Bangkok, Singapura, Mumbai, Los Angeles, Cape Town dan Johannesburg, dan lain-lain.
Marco menyelesaikan pendidikan insinyur (Ir) arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 1986 dan memperoleh gelar Master of Architectural Engineering (MAE) dari Post Graduate Centre Human Settlements, Catholic University of Leuven, Belgia pada tahun 1990, dalam bidang permukiman dan kajian arsitektur perkotaan.
Ia adalah Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Juli 2006 - Juli 2009.
Back to list